Job order costing adalah sistem akuntansi biaya yang digunakan untuk mengakumulasi dan menetapkan biaya produksi berdasarkan pesanan atau job tertentu. Sistem ini diterapkan pada perusahaan yang memproduksi barang atau menyediakan jasa yang bersifat unik, custom, atau berbeda satu dengan yang lain (heterogen). Setiap job mempunyai identitas tersendiri sehingga pencatatan biaya harus dilakukan secara individual. Jika dibandingkan process costing, Job order costing digunakan pada produksi berdasarkan pesanan (custom order), dimana setiap job memiliki karakteristik dan spesifikasi berbeda. Disisi lain, process costing digunakan pada produksi masal dengan produk homogen, dimana biaya dihitung per departemen atau proses produksi secara kumulatif. Pada kesempatan ini, penulis akan membahas terkait dengan Job Order Costing CA secara komprehensif yang menjadi salah satu sub-bab pada mata ujian Akuntansi Manajemen Lanjutan untuk ujian Chartered Accountant.
![]() |
Image by freepik |
Komponen Utama dalam Job Order Costing
Biaya bahan langsung (Direct Materials)
Merupakan biaya bahan baku yang secara langsung dapat diidentifikasi dengan job tertentu. Pencatatan biaya bahan langsung dilakukan melalui kartu atau dokumen pendukung yang mencatat pengeluaran bahan per job.
Biaya tenaga kerja langsung (Direct Labor)
Merupakan biaya upah pekerja yang terlibat langsung dalam pembuatan suatu job. Biaya ini dicatat berdasarkan jam kerja atau unit kerja yang dihabiskan pada masing-masing job.
Biaya overhead pabrik (Manufacturing Overhead)
Merupakan biaya produksi tidak langsung, misalnya biaya listrik, depresiasi peralatan, pemeliharaan, dan sewa pabrik. Karena biaya overhead tidak dapat diatribusikan secara langsung ke job tertentu, maka harus dialokasikan dengan menggunakan metode yang telah ditetapkan.
Sistem Pengumpulan dan Pencatatan Biaya
Job Cost Sheet
Job cost sheet adalah dokumen utama dalam sistem job order costing yang digunakan untuk:
- Mencatat seluruh biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yang diterapkan pada masing-masing job
- Berfungsi sebagai dokumen bukti untuk pelacakan dan penetapan biaya per job
- Memudahkan analisis profitabilitas setiap pesanan
Alur Pencatatan
- Penerimaan pesanan: Pembuatan job cost sheet sebagai identifikasi awal untuk setiap pesanan
- Pengeluaran bahan dan tenaga kerja: Pencatatan pengeluaran langsung sesuai penggunaan pada job
- Penetapan overhead: Biaya overhead dialokasikan ke job berdasarkan arif overhead yang telah ditentukan
- Penutupan job: Setelah job selesai, total biaya pada job cost sheet digunakan untuk menentukan harga pokok penjualan dan evaluasi profitabilitas
Metode Penentuan dan Pengalokasian Biaya Overhead
Predetermined overhead rate (Tarif overhead rate yang ditetapkan sebelumnya)
Sebelum periode berjalan, perusahaan menghitung tarif overhead dengan cara:
Kelebihan: Memungkinkan pengalokasian overhead secara konsisten sepanjang periode
Kekurangan: Perbedaan antara estimasi dan realisasi dapat menyebabkan underapplied atau overapplied overhead
Normal costing vs Actual Costing
- Normal costing: Menggunakan biaya langsung aktual (bahan dan tenaga kerja) dan overhead yang dialokasikan dengan predetermined overhead rate
- Actual costing: Menggunakan biaya aktual untuk bahan, tenaga kerja, dan overhead. Metode ini memberikan akurasi yang lebih tinggi tetapi seringkali tidak praktis karena keterlambatan informasi biaya overhead aktual
Penyelesaian penyimpangan overhead
- Overapplied Overhead: Jika overhead yang diterapkan melebihi overhead aktual, selisihnya dapat dikreditkan dan laporan laba rugi atau disesuaikan di akhir periode
- Underapplied Overhead: Jika overhead yang diterapkan kurang dari overhead aktual, selisihnya harus dibebankan sebagai biaya tambahan di laporan laba rugi
Proses Perhitungan Biaya per Job
Langkah-langkah perhitungan
- Identifikasi dan pencatatan biaya: Catat biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung yang digunakan
- Penerapan overhead: Hitung overhead yang diterapkan menggunakan predetermined overhead rate
- Total biaya job: Jumlahkan biaya langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yang diterapkan
Contoh perhitungan sederhana
Misal:
- Biaya bahan langsung untuk Job A = Rp 10 juta
- Biaya tenaga kerja langsung untuk Job A = Rp 5 juta
- Predetermined overhead rate = Rp 2 ribu per jam, dengan total jam kerja 500 jam untuk Job A
Maka, overhead yang diterapkan:
- Overhead yang diterapkan = 500 jam x Rp 2 ribu / jam = Rp 1 juta
Penerapan Job Order Costing dalam Akuntansi Manajemen Lanjutan
Analisis profitabilitas dan pengambilan keputusan
- Evaluasi kinerja: Job cost sheet membantu manajemen menganalisis profitabilitas tiap job dan menentukan apakah suatu pesanan menguntungkan
- Penetapan harga: Informasi biaya yang akurat memungkinkan penetapan harga jual yang kompetitif sekaligus mengakomodasi margin keuntungan yang diinginkan
- Kontrol biaya: Perbandingan antara biaya standar dan biaya aktual memberikan insight untuk perbaikan proses produksi dan pengendalian biaya
Tantangan dan solusi
- Variasi dalam penggunaan sumber daya: Job order costing harus mampu mengakomodasi perbedaan signifikan antara satu job dengan yang lain
- Akurasi pengalokasian overhead: Penggunaan metode tradisional (misal berbasis jam kerja) mungkin kurang akurat jika terdapat banyak variabel yang mempengaruhi overhead. Solusi: Penerapan Activity-Based Costing (ABC) untuk alokasi overhead yang lebih tepat
- Integrasi sistem informasi: Implementasi software ERP dan sistem akuntansi modern dapat meningkatkan efisiensi pencatatan dan pelaporan biaya
Implementasi teknologi
- Sistem ERP: Membantu dalam otomatisasi pencatatan dan pelaporan biaya per job
- Business intelligence (BI): Memungkinkan analisis data secara real time untuk mendukung pengambilan keputusan strategis
Studi Kasus dan Aplikasi Industri
Industri manufaktur
- Contoh: Perusahaan otomotif yang memproduksi kendaraan berdasarkan pesanan khusus
- Penerapan: Masing-masing kendaraan dianggap sebagai job tersendiri dengan perbedaan spesifikasi dan permintaan khusus dari pelanggan
Industri jasa
- Contoh: Perusahaan konstruksi yang menangani proyek pembangunan bangunan atau infrastruktur
- Penerapan: Setiap proyek dianggap sebagai job dengan biaya yang dikumpulkan secara terpisah sehingga memudahkan evaluasi margin keuntungan tiap proyek
Latihan Soal
Kesimpulan
Job order costing merupakan sistem yang vital bagi perusahaan yang menghasilkan produk atau jasa unik dan memerlukan pelacakan biaya per pesanan secara terpisah. Dengan menggunakan job cost sheet, penetapan biaya overhead yang tepat, dan analisis penyimpangan, perusahaan dapat:
- Menentukan harga jual yang sesuai
- Menganalisis profitabilitas tiap job
- Mengidentifikasi area untuk perbaikan dalam pengendalian biaya
Penggunaan teknologi informasi dan metode akuntansi modern seperti activitiy - based costing semakin memperkuat akurasi dan efisiensi dalam sistem job order costing. Pemahaman mendalam mengenai konsep-konsep ini sangat penting untuk pengambilan keputusan strategis dalam akuntansi manajemen lanjutan.
Posting Komentar