Dalam dunia akuntansi manajerial, pemahaman mengenai perbedaan antara Variabel Costing dan Absorption Costing sangat penting. Masing-masing metode memiliki pendekatan dan implikasi yang berbeda, baik untuk tujuan pelaporan keuangan eksternal maupun pengambilan keputusan manajerial. Meskipun absorption costing (juga dikenal sebagai full costing) wajib digunakan untuk pelaporan keuangan sesuai dengan standar GAAP atau IFRS, variabel costing memberikan informasi yang lebih relevan untuk analisis biaya, penetapan harga, dan evaluasi kinerja operasional. Pada artikel ini, penulis akan menjelaskan tentang variabel costing dan absorption costing yang merupakan salah satu sub materi dalam akuntansi manajemen lanjutan yang diujikan pada ujian Chartered Accountant.
![]() |
Image by freepik |
Definisi dan Konsep Dasar
Variabel costing
- Definisi: Variabel costing adalah metode pengalokasian biaya dimana hanya biaya variabel (biaya yang berubah seiring dengan volume produksi) yang dimasukan ke dalam biaya produk. Biaya tetap produksi, seperti overhead pabrik tetap, dianggap sebagai beban periode dan langsung dibebankan ke laba rugi pada saat periode terjadinya.
- Komponen Biaya:
- Biaya variabel langsung:
- Biaya bahan baku langsung
- Biaya tenaga kerja langsung
- Biaya overhead variabel (misalnya, listrik yang dipakai pada mesin produksi)
- Biaya tetap:
- Overhead pabrik tetap (dibebankan langsung sebagai biaya periode)
- Karakteristik:
- Menyediakan informasi mengenai margin kontribusi (kontribusi penjualan dikurangi biaya variabel) yang penting untuk analisis titik impas (break-even) dan pengambilan keputusan jangka pendek.
- Lebih transaparan dalam mengungkap perilaku biaya sehubungan dengan volume produksi.
Absorption costing
- Definisi: Absorption costing adalah metode pengalokasian biaya dimana seluruh biaya produksi, baik variabel maupun tetap, diserap ke dalam biaya produk. Biaya tetap overhead dialokasikan ke setiap unit produksi yang diproduksi dan kemudian ditransfer ke biaya persediaan.
- Komponen biaya:
- Biaya variabel langsung: (sama seperti pada variabel costing)
- Biaya overhead tetap:
- Dialokasikan ke setiap unit produk berdasarkan metode pembagian tertentu (misalnya, jumlah unit yang diproduksi, jam kerja, atau aktivitas lainnya)
- Karakteristik:
- Diwajibkan untuk pelaporan keuangan eksternal oleh standar akuntansi (GAAP/IFRS)
- Nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP) mencerminkan semua biaya produksi
- Profitabilitas dapat dipengaruhi oleh perubahan volume produksi versus penjualan, karena biaya tetap dialokasikan ke persediaan
Pengalokasian Biaya Produksi
Perlakuan atas biaya variabel
- Variabel costing: Biaya tetap produksi tidak dialokasikan ke unit produk, melainkan langsung dibebankan ke laporan laba rugi pada periode terjadinya, sehingga nilai persediaan hanya terdiri atas biaya variabel
- Absorption costing: Biaya tetap produksi dialokasikan ke setiap unit produk. Oleh karena itu, ketika terjadi kelebihan produksi (produksi > penjualan), sebagian biaya tetap terserap ke persediaan akhir, yang dapat menunda pengakuan biaya tersebut ke periode berikutnya
Dampak pada penilaian persediaan
- Variabel costing: Persediaan dinilai berdasarkan biaya variabel saja
- Absorption costing: Persediaan mencakup biaya variabel dan biaya tetap produksi. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan signifikan dalam nilai persediaan antara kedua metode terutama pada kondisi fluktuasi produksi dan penjualan.
Pengaruh pada Laporan Keuangan dan Evaluasi Kinerja
Pengakuan laba
- Variabel costing: Laba lebih mencerminkan aktivitas penjualan pada periode berjalan, karena seluruh biaya tetap dianggap beban periode.
- Absorption costing: Jika produksi melebihi penjualan, sebagian biaya tetap akan "disembunyikan" dalam persediaan, sehingga laba tampak lebih rendah karena melepaskan biaya tetap yang tertunda.
Pengukuran kinerja
- Variabel costing cenderung memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap hubungan biaya-volume-laba (CVP) dan efektivitas operasional jangka pendek
- Penggunaan absorption costing dalam evaluasi kinerja departemen produksi dapat menciptakan insentif untuk memproduksi lebih banyak daripada kebutuhan pasar (overproduction) guna menurunkan biaya per unit
Keunggulan dan Keterbatasan Masing - Masing Metode
Variabel costing
Keunggulan:
- Relevansi informasi untuk keputusan jangka pendek: Menyediakan data mengenai margin kontribusi, yang esensial untuk analisis titik impas, penetapan harga, dan evaluasi keputusan seperti make - or - buy
- Transparansi perilaku biaya: Memisahkan biaya tetap dan variabel secara jelas, sehingga memudahkan analisis dalam perubahan volume prduksi terhadap laba
- Menghindari distorsi profit: Tidak terjadi penundaan pengakuan biaya tetap karena tidak dialokasikan ke persediaan
Keterbatasan:
- Tidak sesuai untuk pelaporan eksternal: Tidak diterima oleh standar pelaporan keuangan eksternal (GAAP/IFRS)
- Pengabaian konsep full cost: Tidak mencerminkan keseluruhan biaya produksi, yang bisa menjadi pertimbangan dalam penilaian harga produk secara keseluruhan
Absorption costing
Keunggulan:
- Kepatuhan terhadap tandar pelaporan: Diwajibkan oleh standar akuntansi untuk laporan keuangan eksternal
- Pendekatan full costing: Memastikan bahwa semua biaya produksi, termasuk biaya tetap, tercermin dalam biaya produk dan persediaan
- Konsistensi dengan konsep inventory valuation: Memungkinkan perusahaan untuk menyamakan biaya produksi dengan penjualan produk dalam jangka panjang
Keterbatasan:
- Distorsi dalam pengambilan keputusan: Pengalokasian biaya tetap ke produk dapat menimbulkan distorsi dalam analisis margin kontribusi dan pengambilan keputusan jangka pendek
- Insentif overproduction: Dapat mendorong produksi berlebih untuk menurunkan biaya per unit, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap efisiensi operasional
- Pengaruh volume produksi: Perubahan volume produksi dapat menyebabkan fluktuasi laba yang tidak mencerminkan kinerja operasional sebenarnya
Implikasi pada Pengambilan Keputusan Manajerial
- Analisis Cost - Volume - Profit (CVP): Variabel costing lebih relevan untuk analisis CVP karena margin kontribusi dihitung secara langsung dari biaya variabel. Hal ini membantu dalam menentukan titik impas dan menganalisis dampak perubahan volume terhadap penjualan laba.
- Penetapan harga dan keputusan produksi:
- Variabel costing: Memberikan dasar yang jelas untuk penetapan harga dan fokus pada biaya variabel yang relevan dan margin kontribusi
- Absorption costing: Walaupun memberikan gambaran lengkap tentang biaya produksi, penggunaan biaya tetap dalam perhitungan biaya unit bisa menyesatkan jika volume produksi berfluktuasi
- Evaluasi kinerja dan insentif: Metode absorption costing dapat menciptakan insentif yang tidak tepat, seperti memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mengalokasikan biaya tetap lebih rendah per unit. Oleh karena itu, untuk evaluasi kinerja internal, banyak perusahaan menggunakan variabel costing atau menggabungkan kedua pendekatan untuk gambaran yang lebih lengkap.
- Keputusan jangka panjang: Dalam keputusan investasi dan perencanaan jangka panjang, analisis full costing (absorption costing) memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai total biaya produksi. Namun, untuk keputusan operasional sehari-hari, variabel costing sering dianggap lebih relevan.
Contoh Perhitungan Numerik
Contoh kasus:
Sebuah perusahaan memproduksi 10.000 unit dalam satu periode, namun hanya menjual 8.000. Berikut ini adalah komponen biayaper unit:
- Biaya variabel:
- Bahan baku: Rp 20.000
- Tenaga kerja langsung: Rp 15.000
- Overhead variabel: Rp 5.000
- Total biaya variabel per unit: Rp 40.000
- Biaya tetap total produksi: Rp 100.000.000
Penghitungan biaya tetap per unit (absorption costing):
Jika dialokasikan ke 10.000 unit maka biaya per unit = Rp 100.000.000/10.000 = Rp 10.000
Perhitungan absorption costing (full costing)
Biaya produk Per unit:
Biaya variabel per unit + Biaya tetap per unit = Rp 40.000 + Rp 10.000 = Rp 50.000
Penilaian persediaan akhir:
Persediaan akhir (2.000 unit) = 2.000 x Rp 50.000 = Rp 100.000.000 (Sebagian dari biaya tetap tertunda dalam persediaan)
Laba:
Laba akan mencerminkan biaya tetap yang dibebankan hanya pada 8.000 unit yang terjual sehingga laba tampak lebih tinggi jika dibandingkan biaya tetap langsung dibebankan.
Variabel costing
Biaya produk per unit:
- Biaya variabel per unit = Rp 40.000 (Biaya tetap tidak dialokasikan ke unit produk)
Beban periode: seluruh biaya tetap Rp 100.000.000
Laba:
Laba dihitung dengan menggunakan seluruh biaya tetap dari margin kontribusi penjualan, sehingga laba lebih mencerminkan hasil operasional dariaktivitas penjualan periode tersebut.
Analisis Perbedaan
- Dengan absorption costing, laba dapat bervariasi terganatung pada jumlah unit yang diproduksi dibandingkan dengan penualan, karena sebagian biaya tetap tersimpan dalam persediaan.
- Variabel costing menunjukan laba yang lebih konsisten dan langsung terkait dengan volume penjualan, tanpa distorsi dari fluktuasi persediaan.
Isu Lanjutan dan Perdebatan Konseptual
- Over-absorption dan under-absorption: Ketika tarif alokasi biaya tetap tidak mencerminkan biaya aktual, dapat terjadi over-absorption (biaya dialokasikan lebih besar dari biaya aktual) atau under-abosrption, yang dapat mempengaruhi penilaian kinerja dan keputusan manajerial.
- Perubahan volume produksi: Variasi antara jumlah unit yang diproduksi dan dijual dapat menyebabkan fluktuasi laba yang tidak mencerminkan kinerja operasional yang sesungguhnya, terutama pada absorption costing.
- Integrasi dengan Metode Costing Lain: Dalam praktik modern, beberapa perusahaan mengintegrasikan Acitivity - Based Costing (ABC) untuk mendapatkan alokasi biaya yang lebih tepat berdasarkan aktivitas yang dilakukan, terutama bila struktur biaya perusahaan sangat kompleks.
- Penggunaan dalam pengambilan keputusan strategis: Meskipun absorption costing memberikan gambaran lengkap tentang total biaya, variabel costing lebih sering digunakan dalam pengambilan keputusan strategis jangka pendek karena mampu menyoroti perilaku biaya secara lebih jelas.
Latihan Soal
Kesimpulan
- Variabel costing dan Absorption costing merupakan dua metode pengalokasian biaya produksi yang memiliki tujuan dan implikasi yang berbeda
- Absorption costing wajib untuk pelaporan eksternal, namun dapat menyebabkan distorsi laba akibat perbedaan produksi dan penjualan
- Variabel costing lebih relevan untuk pengambilan keputusan jangka pendek karena menekankan margin kontribusi dan perilaku biaya variabel
- Pemahaman metode costing harus disesuaikan dengan tujuan analisis: pelaporan keuangan eksternal vs pengambilan keputusan internal
- Pemahaman mendalam mengenai kedua metode memungkinkan manajer untuk melakukan analisis yang lebih akurat terhadap kinerja operasional dan membuat keputusan yang strategis
Semoga materi ini dapat memberikan landasan yang kuat dalam memahami perbedaan konsep, aplikasi, dan implikasi manajerial antara variabel costing dan absorption costing dalam konteks akuntansi manajerial lanjutan.
Posting Komentar